Home > Berita, Dalam Negeri > 12 Perguruan Tinggi Di Yogyakarta

12 Perguruan Tinggi Di Yogyakarta

Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof Ir Sudjarwadi MEng, PhD, memimpin rapat koordinasi bersama dua belas perguruan tinggi di Yogyakarta guna membahas penanganan korban erupsi Merapi. Para perguruan tinggi negeri dan swasta itu sepakat sinergi untuk menanggapi perkembangan bencana.

Dalam rapat digelar Kamis 11 November 2010 itu, Rektor Prof. Sudjarwadi mengatakan UGM setiap harinya telah melakukan tiga kali sharing tentang informasi terkini penanganan Merapi. Hanya saja UGM berkeyakinan penanganan akan lebih optimal bila PT-PT di Yogyakarta bisa saling bersinergi.

“Saya juga yakin perguruan-perguruan tinggi di Yogya telah banyak melakukan kontribusi, oleh karenanya dengan pengalaman-pengalaman yang disampaikan nanti akan dapat menuju pada gagasan yang terbaik. Meski di lapangan telah banyak dilakukan kebersamaan-kebersamaan, namun masih banyak juga yang bersifat dadakan-dadakan sehingga dengan kondisi tersebut akan lebih bisa mengoptimalkan peran kita,” kata Sudjarwadi dilansir laman UGM, Jumat 12 November 2010.

Selain UGM sebagai pihak penyelenggara, perguruan tinggi yang hadir dalam rapat koordinasi ini di antaranya Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Universitas Islam Indonesia, Institut Seni Indonesia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Atmajaya Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, Universitas Proklamasi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.

Sudjarwadi berharap dengan rapat koordinasi ini dapat menentukan langkah-langkah guna penanganan para pengungsi. Tidak saja saat tanggap darurat, melainkan saat memasuki tahap recovery dan rekonstruksi pasca bencana.  Kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman diharapkan mampu mendirikan shelter-shelter sementara, sekaligus memulihkan kehidupan perekonomian desa sehingga dengan upaya demikian mampu membangun masyarakat yang mandiri.

Dari diskusi terungkap bahwa hampir semua perguruan tinggi di Yogyakarta telah menyiapkan lokasi gedungnya guna menampung para korban erupsi Merapi. Selain memberikan fasilitas penampungan untuk tinggal sementara, mereka juga memberikan fasilitas MCK, makanan, kesehatan dan pendidikan.

Bahkan dalam masa tanggap darurat semua PT di Yogyakarta telah mendirikan posko-posko bencana. Tidak sedikit pula dari mereka menggalang sponsor dan dana guna keperluan-keperluan tersebut.

Seperti dituturkan Rektor Universitas Islam Indonesia, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, selain kampusnya sempat dijadikan tempat penanampungan pengungsi, civitas akademika UII juga melakukan penggalangan dana yang disampaikan ke posko-posko bencana. Hanya saja, karena saat ini kampus utara masuk wilayah zona rawan bencana maka UII pun kini tidak lagi menjadi tempat penampungan pengungsi.

“Semua penuh dengan keterbatasan, apalagi kami UII jika sampai tanggal 17 November 2010 kampus kami masih dalam zona rawan bencana kami mohon kesediaan UGM, UIN atau UNY untuk meminjamkan gedungnya bagi kelangsungan perkuliahan kami,” ujar Rektor Universitas Islam Indonesia, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, SE.

Ir Kosmargono A., MCM, PhD, Rektor Universitas Atmajaya Yogyakarta, menyatakan hingga saat ini menampung pengungsi sebanyak 288, dengan rincian anak-anak 11, remaja 6, Lansia 30 dan dewasa 241. Bahwa program yang dilaksanakan dalam masa tanggap darurat tidak jauh berbeda dengan PT-PT yang lain.

“Hanya saja kami para relawan menduga ada satu kelompok LSM perannya hanya memindah-mindah pengungsi, yang perlu kita waspadai motivasinya apa? Oleh para relawan coba diselidiki ternyata para pengungsi ini memang dipindah-pindah dari satu tempat pengungsian ke pengungsian yang lain. Saya tidak dapat mendalami lebih jauh karena situasinya tidak memungkinkan,” katanya.

Sementara itu, Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta Prof.Dr. H. Didit Welly Udjianto MS menguraikan kampusnya hingga saat ini menampung 1.690 pengungsi. Untuk mengurusi para pengungsi ini UPN melibatkan sekitar 400 relawan, terdiri dari mahasiswa, Paskhas TNI, relawan dari Sampoerna dan Mie Sedaap.

Untuk kebutuhan para pengungsi ini, Didit Welly menangkap permasalahan MCK dan air sangat terbatas. “Hal ini tentu menjadi perhatian kita bersama, PT ini akan menampung para pengungsi ini sampai kapan, sementara tanggal 15 November kami harus kembali lagi pada proses belajar mengajar,” katanya seperti yang kami kutip dari vivanews.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: